PKS terjebak lumpur syirik Demokrasi

Berik

ut saya tampilkan dua berita yang memberi bukti akan dahsyatnya jebakan lumpur bernama demokrasi. Partai politik yang lahir dari rahim Ikhwanul Muslimin terjebak di dalamnya, dan tak bisa keluar. Makin lama makin dalam, dan hampir tenggelam karenanya.

Kita prihatin, dan harus menasehati mereka. Atau minimal menjadikan berita ini sebagai pelajaran yang berharga.

Orang bijak adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari orang lain. Sedangkan orang tidak bijak adalah yang hanya mengambil pelajaran jika dirinya sendiri yang mengalami.

Berikut beritanya:

PKS Dianggap Merapat ke Amerika

Senin, 14 Juni 2010 | 05:54 WIB

Partai Keadilan Sejahtera/TEMPO/Gunawan Wicaksono

TEMPO Interaktif, Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera akan menggelar musyawarah nasional kedua di Hotel-Ritz Carlton. PKS akan mengundang Duta Besar Amerika Serikat, Cameron R. Hume, sebagai pembicara. Tak hanya itu. Panitia munas juga akan menggelar lomba menulis surat kepada Presiden Amerika Barack Obama.

Kalangan pengamat politik membaca gerak PKS merapat ke Amerika sebagai upaya mengubah citra. Arbi Sanit, pengamat politik dari Universitas Indonesia, menilai PKS tengah berupaya mengubah citra untuk memperluas dukungan karena selama ini pemilihnya masih terbatas. “Ini manipulasi untuk mengakali sikap pemilih pada 2014,” ujar Arbi kemarin.

Pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies, J. Kristiadi, juga menilai PKS tengah mengubah strategi untuk memperluas konstituennya. “Biar bisa diterima masyarakat lebih luas, termasuk yang non-Islam,” kata Kristiadi.

Namun Ketua Dewan Pimpinan Pusat PKS Mahfudz Siddiq membantah anggapan soal agenda terselubung partainya untuk bermesraan dengan Amerika. “Kami ingin tahu sikap Obama terhadap Islam,” kata Mahfudz soal alasan mengundang Cameron R. Hume.

http://tempointeraktif.com/hg/politik/2010/06/14/brk,20100614-254931,id.html

Berita kedua diturunkan Kompas, sebagai berikut:

Ada Pesan Politik

PKS Gelar Munas di Hotel Ritz-Carlton

JAKARTA, KOMPAS.com – Partai Keadilan Sejahtera atau PKS akan menggelar Musyawarah Nasional pada 16-20 Juni mendatang. Munas akan digelar di Hotel Ritz-Carlton, di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Disebut-sebut, biaya untuk perhelatan itu mencapai Rp 10 miliar. Sekjen PKS Anis Matta mengatakan, ada pesan politik di balik dipilihnya hotel yang pernah menjadi sasaran bom setahun silam itu.

“Harga hotel itu jauh lebih murah dibanding hotel lain karena habis dibom. Dengan Munas PKS digelar di sana, nanti bisa mengembalikan citra hotel dan mengasumsikan negara kita sudah aman,” kata Anis dalam diskusi Radio Trijaya “PKS di Tengah Pusaran Politik dan Target 2014″ di Jakarta, Sabtu (12/6/2010).

Hotel yang masih masuk dalam kelompok bisnis Amerika Serikat itu, dikatakan Anis, juga membawa pesan sendiri mengapa partainya memilih tempat tersebut. “Kami ingin menyampaikan pesan kepada kelompok Amerika, kelompok Islam Indonesia beda dengan yang mereka asumsikan. Maka, kami nanti juga akan mengundang Dubes Amerika Serikat untuk membahas pidato Obama di Kairo. Ada pesan politik yang lebih besar yang ingin disampaikan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Anis mengatakan, PKS akan menantang Amerika Serikat melalui dubesnya di Indonesia mengenai cara pandang negara adidaya itu terhadap Islam. Selama ini, menurutnya, Amerika selalu mengedepankan bagaimana Islam memandang negara tersebut.

“Kami akan balik bertanya, Anda seperti apa memandang Islam,” ujar Wakil Ketua DPR ini.

Munas PKS juga akan mengukuhkan susunan kepengurusan tingkat pusat yang sudah ditunjuk oleh Majelis Syuro. Berbeda dengan partai lain yang selalu mengadakan pemilihan pimpinan puncak partai pada saat Munas, PKS melakukannya melalui mekanisme Majelis Syuro.

http://nasional.kompas.com/read/2010/06/12/11391850/PKS.Gelar.Munas.di.Hotel.Ritz.Carlton

Pelajaran yang bisa dipetik:

1. PKS ingin mengambil jarak sejauh-jauhnya dari para teroris (baca: mujahidin) yang mengebom Rits Carlton. Bahkan dengan cara yang sangat arogan, dengan menjadikan hotel yang dibenci oleh teroris itu sebagai tempat acara. PKS seperti menampar dengan sangat keras bahwa tindakan para teroris itu bertolak belakang dari ideologi PKS.

2. Namun cara PKS membenci teroris keluar dari bingkai wala wal bara. PKS merangkul musuh untuk menjaga jarak dengan sesama unsur umat Islam. Sungguh menjijikkan.

3. Alasan bisaya murah di Rits Carlton itu sungguh menggelikan. Orang bisnis pasti cari untung. Artinya, tetap saja PKS memberikan keuntungan kepada Rits Carlton yang jelas milik AS. Padahal AS pendukung setia Israel. Sungguh politik najis khas demokrasi.

4. PKS sudah kehilangan rasa malu dan nalar waras, hanya karena pertimbangan mencari konstituen yang lebih luas. Padahal dengan melakukan tindakan konyol seperti ini, konstituen yang sebelumnya loyal akan pergi, sementara konstituen yang baru belum tentu didapat. Inilah fatamorgana Demokrasi, yang diterangkan oleh Abdul Ghani ar-Rahhal dengan sangat baik dalam bukunya yang berjudul al-islamiyyun wa saraab dimiqrathiyyah (aktifis Islam dan fatamorgana demokrasi).

5. Saya tertegun lama dan tak habis pikir, kok bisa para cerdik cendekia yang mengendalikan PKS bisa meloloskan rencana super konyol ini. Jumlah mereka banyak, dan tidak sedikit yang alumni Timur Tengah. Hilang ke mana ilmu al-wala wal bara yang biasa mereka bahas?

6. “Harga hotel itu jauh lebih murah dibanding hotel lain karena habis dibom. Dengan Munas PKS digelar di sana, nanti bisa mengembalikan citra hotel dan mengasumsikan negara kita sudah aman,” kata Anis dalam diskusi Radio Trijaya “PKS di Tengah Pusaran Politik dan Target 2014″ di Jakarta, Sabtu (12/6/2010). Hah, Anis Matta yang bergelar LC dari LIPIA menggunakan dana umat yang terhimpun di PKS hanya untuk mengembalikan citra hotel milik AS? Inna lillah wa inna lillahi rajiun. Izzah (harga diri) umat mana? Infaq sepeser demi sepeser yang dikumpulkan dari keringat dan banting tulang dari warga PKS digunakan untuk mengembalikan citra hotel milik Amerika?

7. Rasanya PKS sudah sangat dalam terjerumus lumpur Demokrasi. Nyaris mustahil bisa mentas darinya. Masihkah bisa mengharapkan kiprah mereka untuk membela umat Islam?

8. Wahai kader dan simpatisan PKS, gunakanlah hati nurani Anda membaca berita ini. Buanglah fanatisme dan taqlid buta kepada para pimpinan PKS sebelum Anda ikut masuk lobang yang sama.

9. Demokrasi no, Islam yes ! Parpol Islam no, Dakwah wal Jihad yes !

Source : elhakimi.wordpress.com

Catatan Redaksi:
Wahai PKSmania kekafiran apa lagi yang lebih dasyat dari pada menghalalkan kesyirikan demokrasi…? demokrasi yang merobek jantung islam (Tauhid) lalu kalian jadikan sebagai wilayah ijtihad, apa ini bukan kekafiran murakkab…?. Allah telah mencabut rasa takut akan dosa pada diri kalian, sehingga kalian samaunya berbuat apa saja demi partai, lihat dimunas kalian ada musik, perempuan dan laki campur aduk dll…satu hal yang sangat menggelikan yaitu disaat presenter Rahmah (dengan pakaian ala hidonisnya) dari TV-one mewancarai banya kader (konon LC, MA, dll) dalam ruangan tersebut saling berebutan dan gesekan sehingga sang presenterpun tersenggol alias tercolek badanya sampai berulang2. Subhanallah wa innaalillahi raaji’un. Mungkin ini salah satu tanda kiamat sudah dekat.
Dengan menjadikan Hotel-Ritz Carlton sebagai sentral munas II PKS ini sebagai jawaban terhadap ummat yang selama ini mereka bohongi yaitu tentang boikot produk yahudi, saatnya ummat bertanya: Dimana fatwa kalian yang selalu kalian kampanyekan tentang boikot produk yahudi itu…? apa kalian telah menelan kembali ludah sendiri…? atau lebih dari itu yaitu kembalinya kalian menjadi yahudi…?

FUI : Ungkap Satgas Liar Dibalik Rekayasa Terorisme

AKARTA – Sedianya acara pertemuan antara FUI (Forum Umat Islam) dengan Komisi III DPR RI yang membidangi hukum dan hak asasi manusia dilangsungkan pada pagi hari ini yakni Kamis, 17 Juni 2010 pukul 10.00 WIB, namun karena adanya rapat paripurna maka pertemuan FUI dengan anggota DPR RI Komisi III dilangsungkan tengah hari sekitar pukul 12.00.

Para perwakilan dari FUI terdiri dari Sekjen FUI KH. Muhammad Al-Khatthath, Munarman, Ahmad Michdan, Ahmad Sumargono ,KH. Misbahul Anam, Ust. Abu Jibril, KH. Fathul ‘Azhim, dan beberapa perwakilan tokoh ormas lainnya diterima Komisi III DPR RI.

Anggota Komisi III yang hadir diantaranya adalah; Fahri Hamzah sebagai pimpinan rapat, Firman Jaya, Ahmad Yani, Nudirman Munir, Ruhut Sitompul, dan yang lainnya.

Dalam rapat tersebut FUI (Forum Umat Islam) menyampaikan adanya rekayasa pemberantasan terorisme yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Hal ini terlihat dengan adanya keterlibatan salah seorang oknum polisi (konon seorang desertir) yang bernama Sofyan Sauri yang telah menjadi penghubung peristiwa Aceh, Pamulang, Pejaten dan Solo. Peristiwa ini persis seperti peristiwa KOMJI (Komando Jihad) yang direkayasa aparat keamanan pada dekade 1970-an.

Dalam  surat terbuka yang dilayangkan kepada angggota Komisi III DPR RI FUI menyampaikan beberapa himbauan diantaranya:

  1. Menolak dan menghentikan setiap upaya rekayasa terorisme yang mengorbankan anak bangsa sendiri, terlebih seorang ulama seperti KH. Abu Bakar Ba’asyir
  2. Mengontrol KAPOLRI agar tetap pada tracknya sebagai aparat keamanan yang digaji oleh rakyat, bukan bekerja untuk segelintir elit penguasa yang tunduk pada program war on terrorism yang dikendalikan AS.
  3. Berkaitan dengan penahanan, penyiksaan para aktivis JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) dan penyegelan kantor sekretariat JAT yang merupakan salah satu anggota FUI (Forum Umat Islam) menyerukan kepada anggota komisi III untuk memanggil Kapolri dan memintanya untuk menghentikan aksi tersebut dan merehabilitasi  para aktivis Islam yang direkayasa sebagai teroris sehingga mereka bisa berkativitas seperti biasa.

Munarman yang juga anggota TPM (Tim Pengacara Muslim) memberikan pemaparan berbagai keganjilan dalam operasi pemberantasan terorisme kepada anggota Komisi III. Ia mengatakan:

“Adanya posko-posko yang dibentuk oleh tim BUSER atau Satgas anti Bom –bukan Densus- dimana posko ini tidak berada di lingkungan markas kepolisian RI baik itu Mabes Polri, di Polda maupun di Polsek. Posko ini bukan hanya untuk penanganan kasus terorisme, namun posko ini juga digunakan untuk penanganan tindak pidana lainnya, contohnya; dalam tindak pidana Curas (Pencurian dengan Kekerasan) orang-orang yang ditangkap itu biasanya terlebih dahulu tidak langsung di bawa ke kantor polisi tetapi disimpan dahulu di suatu tempat, dan ini adalah hasil wawancara langsung dengan narapidana-narapidana. Jadi ditangkap, dipukuli, digebugi dulu baru kemudian dibawa ke penyidik di markas kepolisian.

Kerja seperti ini juga terjadi dalam pemberantasan terorisme, salah satu posko tempat dilakukan proses untuk mendapatkan pengakuan itu adalah sebuah hotel Pondok Wisata di daerah lebak bulus. Para  pelaku ditelanjangi di bawa ke hotel tersebut kemudian diancam akan disodomi termasuk diantara salah satunya adalah Muhammad Jibril. Inilah upaya sitematis karena ini telah menjadi pola kerja umum.”

“Menurut keterangan Susno Duaji ia juga menyatakan adanya Satgas-Satgas liar, dibentuknya tim-tim khusus di luar struktur jabatan kepolisian. Dalam penanganan kasus terorisme ini ada tim lain di luar Densus 88 yang bernama Satgas Anti Bom yang mengumpulkan para alumni-alumni baru, ia merekrut sebanyak 40 orang yang tugasnya untuk melakukan pengejaran (tim Buser) nah, tim inilah yang melakukan pembunuhan, penyiksaan terhadap para tersangka kasus terorisme.”

Selanjutnya Munarman juga meminta kepada Komisi III DPR RI untuk melakukan berbagai upaya diantaranya sebagaimana yang ia jelaskan:

Pertama, “pada periode yang lalu ketika Da’i Bahtiar masih menjadi Kapolri dengan terbuka ia menyatakan bahwa ia baru mengumpulkan dana sebesar US $ 50 juta dari pemerintah AS termasuk untuk pembentukan, pelatihan Densus 88. Oleh sebab itu Komisi III diminta menggunakan kewenangannya untuk mengaudit dana-dana yang digunakan oleh Densus 88. Yang perlu bapak-bapak ketahui bahwa Densus 88 membeli pesawat dan  beberapa pejabat Densus 88 bahkan keluarganya tidak hidup di Indonesia, anaknya, istrinya itu tinggal di Singapura, pertanyaannya dari mana biaya itu?”

Kedua, “DPR menggunakan hak interpelasinya mengenai satgas-satgas di luar struktur dan posko-posko liar tadi.”

Ketiga, “Dan yang paling penting DPR bisa menggunakan hak angket karena ini merupakan pelanggaran HAM berat terhadap ekstra judicial killing (pembunuhan di luar proses hukum), terutama contoh kongkritnya adalah terhadap dua orang yang hingga dikuburkan tidak diketahui identitasnya.”

Anggota DPR Komisi III Fahri Hamzah yang memimpin rapat siang itu mengatakan bahwa, “kami memerlukan kinerja yang lebih luas bukan hanya di dewan tapi juga di Komnasham dan institusi-institusi lain yang concern dalam masalah ini. Mudah-mudahan ini bukan pertemuan yang terakhir tetapi ada persiapan-persiapan dari kita untuk menyiapkan bukan hanya fakta hukum tetapi juga dokumen delik untuk kemudian kita ajukan sehingga bisa dinvestigasi masalah ini secara lebih luas. “

Sementara Anggota komisi III lainnya Nudirman Munir menambahkan, “bahwa darah umat islam yang menjujung kemerdekaan ini bagaikan sungai yang mengalir banyaknya dan luar biasa pengorbanannya karena itu kita sebagai generasi penerus mempunyai kewajiban membela kepentingan mereka dan saya yakin dengan data-data yang bapak punya kita akan mempertanyakan ini semua kepada Kapolri, karena itu seperti apa yang disampaikan oleh rekan saya Fahri Hamzah sebagai pimpinan Komisi III tadi yakinlah bahwa ini akan kami permasalahkan ini sampai ke akar-akarnya.”

Senada dengan Anggota dewan yang lainnya Ahmad Yani menginginkan agar permasalahan ini ditindaklanjuti ke Panja Pengawasan hukum.

Dan beberapa anggota dewan lainnya yang hadir dalam rapat tersebut pun turut mendukung untuk mengusut tuntas berbagai pelanggaran kemanusiaan yang terjadi.

Setelah para anggota komisi III selesai memberikan tanggapan KH. Mudzakir ulama asal solo ini menegaskan bahwa umat Islam di solo menolak berbagai rekayasa terorisme yang dilakukan sebagai pengalihan isu seperti kasus Bank Century.

Sementara salah seorang perwakilan FPI yang hadir mengusulkan agar institusi POLRI diletakkan di bawah kementrian dalam negri agar POLRI lebih sipil dan bermasyarakat juga tidak liar. “orang baru diduga teroris sudah main tembak, buat apa adanya pengadilan, buat apa adanya kejaksaan?” imbuhnya.

Tidak ketinggalan KH. Fathul ‘Azhim salah seorang ulama dan tokoh masyarakat Banten (keturunan Sultan Ageng Tirtayasa), mengutip pernyataan salah seorang pejabat Lemhanas dan Ketua MK dalam sebuah surat kabar yang menuntut agar POLRI benar-benar bisa membuktikan bahwa mereka yang ditangkap dan dibunuh itu adalah benar-benar teroris dan harus dibuktikan melalui pengadilan. Beliau juga mengeluh lantaran isu terorisme ini berbagai aktivitas seperti pengajian di kediaman beliau yang diasuh oleh Ustadz Abu Bakar Ba’asyir setiap awal bulan mendapatkan fitnah dari penduduk setempat bahkan para oleh Kiyai dan Ulama (MUI Serang) sebagai tempat pengkaderan teroris.

Terakhir sebagai penutup rapat dengan Komisi III Ust. Abu Jibril juga ikut menyampaikan himbauannya kepada Komisi III dan juga mengisahkan apa yang dialami putranya Muhammad Jibril Abdurrahman yang saat ini masih dalam proses persidangan.

“Kami dari tahun yang lalu sudah datang ke Kompolnas, Komnasham, ke Mabes Polri bahkan sudah dua kali kami ke sana untuk membicarakan masalah teroris ini secara nasional, agar perkara ini tidak menjadi kambing hitam khusus untuk kaum muslimin. Apa yang dilakukan oleh non muslim seperti OPM tidak pernah dikatakan sebagai teroris tetapi disebut separatis. Kelihatannya bahwa teroris ini hanya diperuntukkan untuk kaum muslimin yang menurut versi Densus melakukan kejahatan padahal belum dibuktikan. Kami sudah menyarankan kepada pemerintah agar duduk bersama ulama, untuk menuntaskan apa itu terorisme, apa itu jihad, apa itu teroris, apa itu mujahid?.”

“selanjutnya saya mendapat data dari anak saya Muhammad Jibril yang sekarang sedang disidang, bahwa begitu ia ditangkap oleh Densus yang beragama Islam lalu penyikasaan dilakukan oleh Densus yang tidak beragama Islam dan waktu disiksa itu ada Gories Mere yang menyaksikan penyikasaan anak saya dan itu dilakukan oleh mereka sebelum tujuh hari, empat hari berturut-turut. Saya sudah sampaikan kepada Daud Nasution, Susno Duaji dan Saleh Saaf pada waktu itu, agar jangan sampai anak saya disiksa, ternyata disiksa dan ditelanjangi dan ditubuhnya saya melihat ia mengalami penyikasaan. Jadi saya ingin proses ini dilihat bagaimana proses penyikasaan itu, bagaimana tangannya ketika dilingkarkan besi kemudian dialiri listrik dan ini tidak pernah menjadi pemberitaan. Oleh karena itu kepada Komisi III jangan sampai ini hanya menjadi sebuah cerita, kami sudah banyak melapor-melapor dan melapor tetapi tidak ada tindakan. “

“Dan yang terakhir, pemerintah melalui Presiden, Kapolri begitu bersemangat menjadikan isu terorisme ini. Bahwa umat Islam dimana pada waktu itu diumumkan Kapolri, mereka yang dituduh teroris ini akan mengadakan revolusi pada tanggal 17 Agustus yang diperkirakan seluruh jajaran pemerintahan ini meninggal semua (dibunuh), kemudian besoknya akan dideklarasikan syari’at Islam, seolah-olah begitu ditayangkan teroris inilah yang akan menegakkan syari’at Islam di Indonesia, berarti semua umat Islam yang ingin menegakkan syari’at Islam dituduh sebagai teroris, ini juga perkataan presiden, kita tidak mau Presiden dan Kapolri sebagai pembohong!.”

[muslimdaily.net/widi

Pesan Baru dari Usamah Bin Laden

Baca lebih lanjut

Mengenal lebih dekat, sosok Abu Mush’ab Az Zarqoowiy

Mengenal lebih dekat, sosok Abu Mush’ab Az Zarqoowiy

Dituturkan oleh Saiful Adl, penanggung jawab bidang Security Organisasi Internasional Al-Qaeda.

Bismillahirrohmannirrohiim

Segala puji milik Alloh, Rob semesta alam, sholawat serta salam semoga tercurahkan selalu bagi Nabi Muhammad SAW, para sahabat dan orang-orang yang selalu setia mengikuti ajaran mereka hingga hari kiamat. Amma Ba’du;

Sebenarnya, sama sekali tidak terlintas sama sekali fikiran dalam benak saya untuk menuliskan tentang biografi Abu Mush’ab. Lagi pula, saya tidak memiliki minat atau kesibukan di dunia tulis menulis. Akan tetapi dunia yang sekarang semakin ketat memburu orang-orang yang dicurigai oleh Amerika sebagai teroris, menjadikan saya memiliki banyak waktu luang. Saya memanfaatkannya untuk berdzikir, menghafal Al Qur-aanul Kariim, dan sedikit melakukan beberapa senam fisik. Dalam suasana kegiatan yang monoton seperti ini, ada sebagian orang yang ingin mendengar penuturan saya tentang kepribadian teman dekat saya, Ahmad Fudhoil, atau lebih dikenal dengan sebutan Abu Mush’ab Az Zarqoowiy, selama saya bergaul bersama beliau.

Tadinya saya ragu, apakah saya menuliskannya atau tidak, namun setelah saya istikhoroh, hati saya mantap untuk melakukan hal ini. Pertama-tama, saya menuliskan semua memori yang saya ingat tentang beliau. Semoga Alloh menerima saya sebagai amal sholeh saya, bermanfaat buat mujahidin yang lain yang masih bebas (belum- dan semoga tidak – tertangkap) dimanapun mereka berada. Dan saya selalu mengikuti berita kemenangan dan kesuksesan mereka dalam menyerang musuh, dengan bangga sekaligus rindu, kapan saya bisa seperti itu. Mereka adalah singa-singa dan pahlawan. Dan menurut saya, akhi Abu Mush’ab adalah salah satu dari mereka, demikianlah anggapan kami dan hanya Alloh yang mengetahui hakekatnya.

Baiklah kita mulai. Setelah Alloh takdirkan kaum mujahidin berhasil mengalahkan Rusia dan sejak itu terjadi banyak persengketaan antar mujahidin Afghon itu sendiri, banyak sekali ikhwan-ikhwan arab berfikir untuk pulang ke negeri mereka masing-masing. Terutama yang dari Saudi, Yaman, dan Yordania. Di tiga negara ini, keamanan tidak seketat di negara lain seperti Mesir, Suriah, Aljazaair dan libya. Kami sebagai pendatang dari Mesir, tidak ada pilihan lain selain tetap tinggal di Afghonistan. Atau kalau mau, pindah ke daerah-daerah yang tengah didera konflik, yang menurut kami aman. Saat itu, kami memilih Sudan dan Somalia, dan beberapa negara kecil Afrika. Ada juga ikhwah yang pergi ke negara bekas jajahan Uni Soviet yang memisahkan diri. Ada juga yang tidak menentu, berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain,. Beberapa ikhwah yang kami pandang memiliki keihklasan, melihat ini adalah kerugian besar pada tubuh mujahidin. Artinya, harus segera diambil langkah nyata untuk menghentikan kerugian ini. potensi-potensi besar yang terpendam pada jiwa-jiwa yang telah tergembleng oleh jihad ini harus segera disatukan kembali, disinergikan, dan kemudian digunakan untuk melakukan perubahan dunia yang selama ini kita inginkan. Inilah pemikiran pertama yang menjadi dasar kenapa Organisasi Al Qooidah dibentuk.

Fase Persiapan (I’dad).

Langkah pertama, kami mengumpulkan data-data tentang para tokoh yang ikut dalam jihad Afghon seperlu kami. Baik data lama, atau yang terkini. Diantara para tokoh ini, kami utamakan yang berasal dari Yordania dan Palestina. Baca lebih lanjut

Kecam Densus 88 Umat Islam gelar unjuk rasa di depan Mabes Polri

(Jakarta, Mabes Polri Jum,at 11 juni 2010).

Ribuan massa dari berbagai elemen organisasi Islam seperti  FUI,Jamaah Ansharut Tauhid,FPI,GARIS,Hizbu Dakwah,GPI dan yang lainnya kemarin menggelar aksi unjuk rasa di depan Mabes Polri jalan Trunojoyo Jakarta Selatan.

Mereka menyuarakan tuntutan Bubarkan Densus dan rehabilitasi nama ustadz Abu Bakar Ba’asyir.aksi Densus 88 telah melakukan salah tangkap dan penangkapan tanpa surat penangkapan terhadap aktifis islam yang tak terbukti bersalah,juga atas siksaan yang kejam terhadap aktifis islam yang tak terbukti bersalah.

Aksi dilakukan dengan longmarch. Setelah sholat Jum’at mereka berkumpul di Masjid Agung Al Azhar. Pukul 13.00 WIB, mereka mulai berjalan menuju Mabes Polri. Dengan membentangkan spanduk dan mengucapkan yel-yel “Bubarkan Densus”.Massa membentangkan spanduk dan poster di depan Mabes Polri. Tulisan-tulisan yang dibentangkan antara lain ‘Bubarkan Densus’, ‘Tolak Rekayasa Terorisme’, dan ‘Polri Jangan Jadi Agen AS’.
Aksi tersebut di hadiri oleh tokoh-tokoh Organisasi Islam seperti Gerakan Pemuda Islam yang dalam orasi nya di wakili oleh ketua GPI Bekasi Ust Syamsudin menyatakan Bahwa: penangkapan,penembakan dan penahanan yang di lakukan Densus 88 dan CRT terhadap korban merupakan rekayasa dan sandiwara di picu oleh tekanan kepentingan atas desakan AS karena kekuasaan semata.
FUI menyatakan Densus 88 sama brutal nya dengan ISRAEL yang menyerang Kapal Mavi Marmara..dan FUI menuntut kepada pemerintah dan kepolisian untuk segera membubarkan DENSUS 88 dan CRT ( crisis response team).
Para perwakilan dari beberapa elemen bergantian untuk berorasi. Antara lain Ustadz Hasyim Yahya, Munarman dan Muhammad Khottot. Dalam orasinya, mereka menuntut agar aktivis JAT yang ditangkap beberapa waktu lalu dibebaskan. Mereka menilai anggota JAT yang ditangkap itu bukanlah anggota teroris. Ada beberapa tuntutan yang mereka tekankan. Antara lain, Rehabilitasi nama ustadz Abu Bakar Ba’asyir, buka kembali markaz JAT yang disegel polisi, dan bubarkan Densus 88-Anti Terorisme (D88-AT).

Mereka menganggap cara penangkapan, penembakan dan penahanan orang-orang yang masih diduga teroris tidak prosedural dan melanggar Hak Azasi Manusia (HAM). Terbukti dari 2 jenazah (baru saja dimakamkan) yang selama sebulan terkatung-katung di Rumah Sakit tidak diketahui identitasnya. Tuduhan atau perbuatan apa yang bisa dilekatkan pada mereka kalau mereka adalah teroris.

Aksi ini mendapat penjagaan yang cukup ketat dari pihak kepolisian. Sekitar seratusan anggota polisi lengkap dengan helm berjaga-jaga mengelilingi para pengunjuk rasa. Sementara itu, tampak tameng polisi dipersiapkan di belakang barisan polisi.Beberapa perwakilan aksi diterima oleh pihak polisi. Tampak Wakadiv Humas Polri, Zaenuri Lubis menemui mereka.

Setelah perwakilan keluar dari Mabes Polri, salah satu dari mereka naik ke tempat orasi dan mengatakan hasil perbincangan dengan Zaenuri Lubis, tentang isu akan adanya penangkapan terhadap ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Bahwa Zaenuri Lubis belum mendengar, baik dari pihak kepolisian ataupun Densus 88.

Aksi ini juga diikuti anggota JAT kota Surakarta yang berangkat sehari sebelumnya ke Jakarta menggunakan satu bus.

Inti Dakwah Para Rasul

PERTAMA: Kufur Kepada Thaghut

Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya kewajiban pertama yang Allah fardhukan atas anak Adam adalah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Alah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana yang Dia firmankan:

“Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat itu seorang rasul (mereka mengatakan kepada kaumnya): Ibadahlah kepada Allah dan jauhi thaghut” (An Nahl: 36)

Perintah kufur terhadap thaghut dan iman kepada Allah adalah inti dari ajaran semua rasul dan pokok dari Islam. Dua hal ini adalah landasan utama diterimanya amal shalih, dan keduanyalah yang menentukan status seseorang apakah dia itu muslim atau musyrik, Allah Ta’ala berfirman:

“Siapa yang kufur terhadap thaghut dan beriman kepada Allah, maka dia itu telah berpegang teguh kepada buhul tali yang sangat kokoh (laa ilaaha ilallaah)” (Al Baqarah: 256)

Bila seseorang beribadah dengan menunaikan shalat, zakat, shaum, haji dan sebagainya, akan tetapi dia tidak kufur terhadap thaghut, maka dia itu bukan muslim dan amal ibadahnya tidak diterima.

Adapun tata cara kufur kepada thaghut adalah sebagaimana yang dijabarkan oleh Syaikhul Islam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah:

1. Engkau meyakini bathilnya ibadah kepada selain Allah

2. Engkau meninggalkannya,

3. Engkau membencinya,

4. Engkau mengkafirkan pelakunya,

5. Dan engkau memusuhi para pelakunya.

Ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya tatkala mereka mengatakan kepada kaumnya: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadati selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja” (Al Mumtahanah: 4) Baca lebih lanjut

Isyarat kesyahidan dua jenazah tak di kenal terduga teroris

Jakarta (Arrahmah.com) Akhirnya, dua jenazah tak dikenal yang ditembak Densus 88 di Cawang, Jakarta Timur dimakamkan kemarin Selasa (8/5/2010). Tanpa ada pihak yang tahu siapa keluarga kedua jenazah tersebut. Termasuk polisi yang menembak mati keduanya dengan tuduhan teroris.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Edward Aritonang mengatakan, tim medis dan penyidik Polri memakamkan dua jasad tersangka terorisme yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

“Sudah hampir sebulan belum ada pihak keluarga yang datang mengenali sehingga penyidik dan tim medis memakamkan kedua jasad hari ini,” katanya di Jakarta, Selasa (8/5/2010).

Pukul 09.00 WIB wartawan voa-islam tiba di TPU Pondok Ranggon Jakarta Timur, tapi tak nampak tanda-tanda akan ada pemakaman jenazah. Para penjaga makam tak tahu kalau hari itu akan diadakan pemakaman kedua jenazah tak dikenal. Ketika ditanya tentang rencana pemakaman dua jenazah tak dikenal, Pandi, salah seorang pengurus makam menjelaskan bahwa hari itu tak ada agenda pemakaman. “Tidak ada jadwal pemakaman kedua jenazah tersebut hari ini,” jawabnya.

Namun tak seberapa lama telepon di kantor TPU Pondok Ranggon berdering, kemudian ia memanggil dan mengatakan, barusan ada telepon dari kepolisian bahwa pada hari ini akan ada pemakaman. Maka penggalian lahat pun dilakukan di blok AB, bersebelahan dengan makam Syaifudin Zuhri dan Muhammad Syahrir yang berjarak sekitar 15 Meter dari makam Ibrahim yang ditembak mati Densus di Temanggung, Jawa Tengah.

Lepas shalat zuhur, setelah beberapa jam menunggu tibalah iring-iringan 2 mobil jenazah sekitar pukul 13.00. Iring-iringan jenazah yang dikawal polisi itu berhenti di samping 2 makam yang sudah digali. Prosesi pemakaman pun dilangsungkan. Sekitar 30 orang pelayat yang mengantarkan 2 jenazah tak dikenal tersebut.

Prosesi pemakaman jenazah dilakukan satu persatu sesuai dengan nomor urut yang ditetapkan polisi. Peti jenazah pertama yang diberi nama MR. X-I/CWG/0001 diturunkan dari mobil, selanjutnya jenazah dikeluarkan dan sesuai dengan syariat Islam, jenazah dikuburkan tanpa menggunakan peti. Prosesi yang sama dilakukan terhadap jenazah ke dua yang oleh pihak kepolisian disematkan identitas MR. X-I/CWG/0002.

Saat mengeluarkan kedua jenazah dari dalam peti, para pelayat yang memasukkan ke liang lahat menemukan keajaiban yang diyakini sebagai isyarat kesyahidan. Pada jenazah pertama (MR. X-I/CWG/0001) nampak jelas, bekas darah yang masih mengalir di bagian belakang kepala hingga menembus kain kafan. Sementara pada jenazah kedua (MR. X-I/CWG/0002) terlihat darah yang masih mengalir di bagian belakang kepala dan punggung.

Ustadz Syamsuddin Uba, salah seorang pelayat yang ikut memasukkan kedua jenazah ke liang lahat, tanpa ragu sedikitpun bersaksi tentang tanda-tanda kesyahidan kedua jenazah.

“Sesungguhnya kami sudah biasa mengurus jenazah baik bayi, anak-anak hingga orang dewasa, mulai dari memandikan, menyalatkan hingga pemakaman. Sehingga kami bisa membedakan jenazah orang biasa dengan jenazah mujahid,” ujarnya.

Ustadz aktivis Gerakan Pemuda Islam (GPI) ini menyatakan kesyahidan kedua jenazah dari isyarat darah yang masih mengalir, padahal keduanya sudah meninggal sebulan yang lalu.

…subhanallah, darah mereka masih mengalir dari kepala mereka. Padahal sudah hampir satu bulan lamanya jenazah tersebut berada dalam peti, ujar Ustadz Syamsuddin…

“Ketika kami memandikan kedua jenazah ini kami menyaksikan, subhanallah, darah mereka masih mengalir dari kepala mereka. Padahal sudah hampir satu bulan lamanya jenazah tersebut berada dalam peti,” jelasnya.

Dengan isyarat kesyahidan itu, Ustadz Syam menegaskan bahwa kedua jenazah tersebut adalah bukan teroris, melainkan mujahid.

“Dalam Islam, yang disebut teroris adalah orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, dan sedangkan mereka adalah mujahid yang membela Allah dan Rasul-Nya,” terangnya.

Kedua jenazah tak dikenal itu ditembak mati oleh Densus 88 Antiteror di Cililitan, Jakarta Timur (12/5/2010). Satu jenazah lainnya yang juga ditembak mati adalah Maulana. Jenazah Maulana telah dimakamkan di Sawangan, Depok, Jawa Barat oleh keluarganya.

Prosesi pemakaman kedua jenazah tersebut tak dihadiri oleh sanak-keluarganya. Karena hingga akhir hayatnya tak ada orang yang mengaku keluarganya, meski foto kedua jenazah telah disebarkan polisi. Densus 88 yang menembaknya dengan tudingan teroris pun tak ada yang tahu siapa kedua sosok yang dibunuhnya itu. Tak ada penjelasan apapun dari Mabes Polri atas pembunuhan kedua sosok tak dikenal itu. Polisi hanya bisa menyebut keduanya teroris.

Kedua jenazah yang dikubur di makam tak beridentitas pun tak bisa membantah tudingan teroris yang dituduhkan polisi. Melalui darah yang masih mengalir meski telah meninggal sebulan lamanya itulah mereka berisyarat. [widi]

Source : voa-islam.com